“Pengendalian kelahiran yang terencana dan menyeluruh disetiap wilayah, menjadi pijakan utama untuk mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas"

Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG.(K)

Kepala BKKBN

2 anak lebih sehat

INformaSi digiTAL (INSTAL) seputar Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana)

di Provinsi Sulawesi Tengah

Geografi & Demografi Sulawesi Tengah8

 

Informasi geografi & demografi provinsi sulawesi tengah

Program101

 

Informasi Program pembangunan keluarga, kependudukan & keluarga berencana (bangga kencana) di provinsi sulawesi tengah

Inovasi Program

 

Upaya lebih membumikan program pembangunan keluarga, kependudukan & keluarga berencana (bangga kencana) di provinsi sulawesi tengah

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menerangkan hubungan antara kesehatan reproduksi dengan terjadinya stunting.

 

"kalau ada pertanyaan, apakah kesehatan reproduksi mempengaruhi stunting? itu pertanyaan sama dengan bertanya apakah cara memasak nasi mempengaruhi enaknya nasi, jawabannya pasti," ujar Hasto dalam Webinar yang di adakan oleh Perwakilan BKKBN Sulteng. (Selasa, 26/04/2021)

 

Ia menambahkan, Pak Presiden minta kepada kita semua, supaya stunting turun di tahun 2024 menjadi 14%. Untuk itu penting sekali mendiskusikan tentang kesehatan reproduksi dan stunting, terlebih di masa pandemi ini stunting bisa meningkat. Kemarin angka 26.7%, tetapi para ahli menengarai dimasa pandemi ini bisa terjadi suatu kenaikan. Nah inilah yang perlu harus kita perhatikan bersama, seperti apa kita harus menurunkannya.

 

Proses reproduksi adalah proses terjadinya janin sampai akhirnya lahir. Proses ini terjadi dalam waktu yang cepat, singkat dan sangat menentukan. "Bahkan ketika seorang Ibu hamil dan anak yang dikandungnya itu adalah perempuan, maka telur dari anak perempuan ini sudah tercipta saat itu juga. Sangat luar biasa ciptaan Tuhan ini. Oleh karenanya mencegah stunting sejak dini dari proses reproduksi ini betul-betul sangat penting, karena 3 generasi bisa diselamatkan ketika kita bisa mencegah stunting yang notabene dapat menjadi SDM yang tidak unggul, tidak bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain." Jelas Hasto

 

Sementara itu, hal senada juga diungkapkan oleh Dr. dr Soerjo Harijono, SpOG (K) ketua Himpunan Obstetri Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) mengatakan bahwa sumber utama penyebab stunting adalah bayi lahir sebelum waktunya (prematur), bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan keduanya disebabkan oleh anemia pada ibu, kurang nutrisi, infeksi, ibu hamil pada usia < 20 tahun serta kehamilan yang tidak direncanakan.

 

Untuk itu dr. Soerjo mengatakan kepada peserta webinar khususnya kepada remaja jika ingin menikah maka harus siap hamil, dan setiap kehamilan harus direncanakan. "Karena kehamilan yang tidak direncana, akan mempengaruhi rencana-rencana lainnya." Ujarnya

 

Diakhir materi dr. Frecillia Regina, Sp.A, IBCLC, membawakan materi pahami stunting sejak dini dan MPASI Seimbang, katanya stunting adalah gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat kurang nutrisi, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Seorang anak didefinisikan terhambat gizinya jika tinggi badan mereka terhadap usia lebih dari minus dua (- 2) deviasi standar di bawah median standar pertumbuhan anak WHO. Artinya untuk menentukan anak stunting tidak hanya di lihat pada satu titik saja, harus ada beberapa data seperti berat badan, panjang/badan yang diisi rutin di buku KIA untuk dilakukan analisa.

 

Dokter spesialis anak ini menghimbau kepada masyarakat terutama pada kader ketika mendapatkan pertumbuhan anak melambat atau bahkan menurun maka jangan tunggu sampai nilai stunting di bawah minus dua (- 2), sebaiknya langsung lakukan rujukan kepada dokter untuk penanganan lebih lanjut. Ujarnya

 

 

#BKKBN

#BKKBNSulteng

#BanggaKencana

#Berencanaitukeren

#KeluargaHebatTerencana